Arti
Kejujuran
Imam
A.W.S
Takkan
ternilai kejujuran dan
kepercayaan
Takkan
pernah ternilai dengan apapun!
Jangan
berani bermain main dengan kejujuran
Sekali
tergores maka akan sirna
Akan
padam !
Gelap
gulita !
Dan
takkan pernah
Lihatnya
lagi
Genggam
kesucian
Pantang
ingkar
Bahagia kan datang
Yogyakarta,
12 April 2017
Menanti
Nola Agustin
Menantu waktunya
Menakar lamanya
Bersemi diantara sebuah
harapan
Aku terpaku
Pada hati yang sederhana
Pada hati yang bisu
penuh arti
Aku menantimu
Saat dimana rasamu
adalah rasaku
Hitam
Arnoldus Y. Landomari
Cahaya api lilinku telah
padam!
Telah padam!
Hidupku memburam!
Semakin buram!
Kini kini semuanya
kelam!
Semuanya kelam!
Terjerat
Endah Aniswati
Mengepul
Membumbung
Lalu hilang
Yogyakarta, April 2017
Pahlawan
Endah Aniswati
Kayuh
Terpapar mengucur
Terguyur menggigil
Tersenyum semu
Yogyakarta, April 2017
Perempuan Galak
Endah Aniswati
Dia sembur aku diam
Aku sembur dia diam
Dia luka aku menangis
Aku luka dia menangis
Yogyakarta, April 2017
Lupa
Endah Aniswati
Pada kami dia mengemis
Pada Tuhan dia mengumpat
Yogyakarta, April 2017
Penganyam Bambu
Endah Aniswati
Robohlah sekat
Disengat lebah
Muncul satu malaikat
Hilang dua malaikat
Yogyakarta, April 2017
Yogyakarta
Seva Faujiyah
Kini wajahmu berubah
menjadi kusam
Pembangunan yang tak
terkendali
Gedung-gedung besar
bermunculan
Satu persatu sawah akan
beralih fungsi
Kini wajahmu tak seindah
dulu
Suasana yang begitu
nyaman
Kini berubah menjadi
kebisingan
Layaknya kota yang
menjadi ibukota
Sikod dan Chikma
Via Olva Novita
Hiruk pikuk dalam sebuah
ruangan
Ta menghiraukan wanita
si rambut panjang
Berlalu lalang kaum hawa
berkeliaran
Si rambut panjang masih
termenung dalam khayalan
Berlawanan arus dengan
si pentol korek
Yang terus mengiling
bakso pinggir jalan
Teriak-teriak bak monyet
kegirangan
Berkumat kamit bak dukun
kegilaan
Khayal
Via Olva Navita
Andai indah itu tak
berlekuk
Andai kerdil itu menawan
Andai bulat itu seksi
Andai ikal itu mempesona
Takkan ada sekat
diantara rupa
Takkan ada cacat yang
terucap
Takkan ada cacat yag
terucap
Takkan ada tabir
diantara perbedaan
Hidup nikmat tanpa
cacatan
Pelepas Penat
Nurruhmah Nurul Azizah
Diatas sepetak tanah
3x3
Itulah tempatku melepas
penat
Siang, sore, dan malam
Segi empat
Itulah bentuknya
Yang membujurkan tubuhku
Dari barat ke timur
Bercat biru telor asin
Warna yang menyejukan
dan mendamaikan
Hati dan pikiranku
Negeri Para Penjilat
Erna Sufanti
Mereka menjulurkan
lidahnya
Air liurnya menetes
di ubun-ubun para idiot
Mereka hanya menunduk
Dibiarkannya air liur di
kepalanya
Kemanapun merangkak
lidahnya menjulur
Seperti anjing
terengah-engah
Sesudahnya
para idiot berlagak
Mereka dijilat
Lalu menjilat
idiot-idiot baru
Gelap
Nurul Fitrahtullailah
Bulan memudar cantik
menarik pada jiwa ini
Hitam memang menang
menyerang terang
Gelap sungguh Gelap
Yogyakarta,
April 2017
Amnesia
Hidayatul Khasanah
Setitik noda hitam
diatas kertas putih
Membuatnya tak bersih
lagi kan?
Ya, memang hanya setetes
noda
Tapi cukup untuk membuat
seseorang Amnesia
Seperti asap rokok yang
menghilang dalam kehampaan
Ke dunia yang berkarat
Hatinya mengumpat bagai
buih
Melupakan uluran tangan
yang pernah diberikan
Disebabkan satu titik di
kertas bersih
Ya, lagi-lagi Amnesia
Amnesia, amnesia
Mengapa banyak sekali yang
mengindapnya?
Dunia Hitam Putih
Eri Yuliarsih
Bagaikan permainan
sepakbola dunia
Penonton di setiap sudut
berteriak seperti orang kesurupan
Sebagian hanya
menyaksikan sembari berdoa
Semoga “jagoanku adalah
sang juara”
Sebagian yang lain
tersenyum sinis
Permaikan tiada aturan
Hanyalah kebebasan
Wasit adalah batu
Jalan Kotagede
Lia Ardiyah
Ketika roda menari di
tanah perak nan kasar
Ketika bola mata hanya
menyosongsong ke depan
Tanpa melongo kanan kiri
Ketika kuda besi berlari
Ketika kuda besi itu egois
Kuda coklat tlah
tergantikan
Kini ada
Tapi masa datang mungkin
ini tak ada
Mengubur Bangkai
Bima Rian Hidayat
Sudah lama mata ini
merekam
Kepala tak letih
menyimpan
Namun, bibirku bungkam
lidahku diam
Leherku terjerat oleh
dasi yang ku pakai sendiri
Seperti mengikat diri
dalam perang dan perlawanan
Hitam
Ferdi Juha
Melawan putih
Memikat surya
Merajut perih
Menjerat Jiwa
Yogyakarta, 2017
Negeri Jancuk
Tommy Kurniawan
Terdengar aungan keras
di ufuk timur
Pisau silih berganti
terpatahkan oleh lidah
Kebencian yang mulai
menyibak cakrawala
Merusak dinginnya embun
pagi hari
Yogyakarta, 13 April 2017
Lakardowo
Venda Margareta
Ku merayu
Aku merayu pada tanahku,
Namun tiba-tiba dia
menghitam kesakiatan
Aku merayu pada tanaman,
Namun dia mati
Aku merayu pada beningmu
yang bagiku setiap tetes bagaikan permata,
Namun justru tetesanmu
berubah luh
Aku juga merayu pada
hembusan angin,
Namun juga mereka sudah
terlanjur tidak bersahabat lagi dengan tanaman
Apalagi aku akan merayu
pada pengusaha itu,
Sampai matipun mungkin
dia tak pernah peduli
Dimana salahku?
Atau aku mungkin lupa,
seharusnya aku merayu pada sang Pemilik
Yogyakarta, April 2017
Jawa yang Hilang
Anita Hidayah
Sayang, beribu sayang
Adat jawa tlah hilang
Digantikan adat negeri
seberang
Blangkon dan surjan?
Kebaya dan
kesederhanaan?
Ah kuno!
Style Eropa dan
Korea
Keramaian dan kemegahan
Itulah masanya
Memang
Dunia makin berkembang
Demi negeri yang
gemilang
Tapi bukan untuk
menghilang
Yogyakarta,9 April 2017
Satu Dari Dua
Aska Anjarini
Ketika dua raga
disatukan
Ketika dua raga berikrar
Dua menjadi satu
Satu menjadi dua
Duka untuk bersatu
Bersatu untuk suka
Kiri melemah, kanan
menguatkan
Kanan melumpuh, kiri
perkasa
Satu itu dua
Dua itu satu
Yogyakarta, 2017
Pada siapa?
Yupita Friskiana Wijaya
Aku bercerita pada
langit
Ia justru menggelapkan
awan
Aku mempercayai lautan
Berkali-kali ia
menggulungkan ombak
Aku bertingkai dengan
angin
Sayang, tak ada yang
jadi pemenang
Lantas, pada siapa aku
merimbunkan harap?
Di saat ingkar menumpah
biadab
Sendiri
Dhea Sukma M.P
Sepi itu sunyi
Sunyi itu hening
Hening itu malam
Malam itu gelap
Gelap itu sesak
Sesak itu saat harus
jatuh dari kalian
Yogyakarta, 16 April 2017
Panjat Sosial
Rafi Farkhah
Demi sepatu Cinderalla
Ku rela lepaskan mahkota
Ku kejar gaun permata
Demi mengejar sebuah
nama
Luka jiwa tak lagi
dirasa
Cibir mereka sebatas
nada
Nada tak berirama
Gincu Merah
Trisna Budi Susanti
Berdiri di ambang nista
Terbuai rayu sesaat
Tersenyum menyerat
kumbang
Tertawa meraih alam
kumbang
Berkerumun meraih dunia
Kulon Progo, April 2017
Kaleng
Siti Fatmaisaroh
Joget-joget molek
Tangan melambai
Menjinjing rok mini
Gemolet suara
Gincu tebal menghiasi
bibir
Kecup, kesana kemari
Dunia dunia
Kemerlap kota
Waktu
Ina Anita Dewi
Kertas penuh coretan
sisa-sisa angan pribadi
Meskipun aku tak pernah
tahu ini terjadi
Berharap kopi dan cemilan
menghibur waktu yang tak bisa diulang kembali
Nyatanya mimpi yang
menjagaku hingga dini hari
Terbangun kembali dan
tanpa kusadari, aku masih berdiri disini
Tak lain alasannya
karena isi hati
Pemain Drama
Ayu Permatasari
Hai kau pemain drama
Tersenyum lebar dengan
cerita busuk di dalamnya
Mengoceh sana kemari
mengumbar janji
Entah itu pasti atau
tidak dikemudian hari
Hanya kau dan yang maha
Esa yang tau
Yogyakarta, April 2017
Halang
Mutia Alfi Rahmania
Menarilah didalam
senjaku
Dalam iringan hembusan
angin
Tunjukanlah tarian
terindahmu
Bersama burung yang
terbang di atasmu
Halang semakin senang,
di puja oleh alam
Membuatnya semakin
menawan
Yogyakarta, 2017
Kerupuk Goreng
Lalu Khairil Anwar
Hatimu renyah Dek,
terlalu garing jiwamu
Kebaikan membuatmu jatuh
dan terbunuh.
Jangan bermimpi menjadi
Cinderella.
Sesungguhnya itu hanya
sebuah karangan manusia
Jadilah bunga mawar
untuk mencapai keindahan.