Selasa, 10 Oktober 2017

kumpulan puisi



Arti Kejujuran
Imam A.W.S

Takkan ternilai kejujuran dan
 kepercayaan
Takkan pernah ternilai dengan apapun!

Jangan berani bermain main dengan kejujuran
Sekali tergores maka akan sirna

Akan padam !
Gelap gulita !

Dan takkan pernah
Lihatnya lagi
Genggam kesucian
Pantang ingkar

Bahagia  kan datang

Yogyakarta, 12 April 2017


Menanti
Nola Agustin

Menantu waktunya
Menakar lamanya
Bersemi diantara sebuah harapan
Aku terpaku
Pada hati yang sederhana
Pada hati yang bisu penuh arti
Aku menantimu
Saat dimana rasamu adalah rasaku







Hitam
Arnoldus Y. Landomari

Cahaya api lilinku telah padam!
Telah padam!
Hidupku memburam!
Semakin buram!
Kini kini semuanya kelam!
Semuanya kelam!


Terjerat
Endah Aniswati

Mengepul
Membumbung
Lalu hilang
Yogyakarta, April 2017

Pahlawan
Endah Aniswati

Kayuh
Terpapar mengucur
Terguyur menggigil
Tersenyum semu
               Yogyakarta, April 2017

Perempuan Galak
Endah Aniswati

Dia sembur aku diam
Aku sembur dia diam
Dia luka aku menangis
Aku luka dia menangis
Yogyakarta, April 2017





Lupa
Endah  Aniswati

Pada kami dia mengemis
Pada Tuhan dia mengumpat
Yogyakarta, April 2017

Penganyam Bambu
Endah Aniswati

Robohlah sekat
Disengat lebah
Muncul satu malaikat
Hilang dua malaikat
Yogyakarta, April 2017


Yogyakarta
Seva Faujiyah

Kini wajahmu berubah menjadi kusam
Pembangunan yang tak terkendali
Gedung-gedung besar bermunculan
Satu persatu sawah akan beralih fungsi

Kini wajahmu tak seindah dulu
Suasana yang begitu nyaman
Kini berubah menjadi kebisingan
Layaknya kota yang menjadi ibukota












Sikod dan Chikma
Via Olva Novita

Hiruk pikuk dalam sebuah ruangan
Ta menghiraukan wanita si rambut panjang
Berlalu lalang kaum hawa berkeliaran
Si rambut panjang masih termenung dalam khayalan

Berlawanan arus dengan si pentol korek
Yang terus mengiling bakso pinggir jalan
Teriak-teriak bak monyet kegirangan
Berkumat kamit bak dukun kegilaan

Khayal
Via Olva Navita

Andai indah itu tak berlekuk
Andai kerdil itu menawan
Andai bulat itu seksi
Andai ikal itu mempesona

Takkan ada sekat diantara rupa
Takkan ada cacat yang terucap
Takkan ada cacat yag terucap
Takkan ada tabir diantara perbedaan
Hidup nikmat tanpa cacatan

Pelepas Penat
Nurruhmah Nurul Azizah

Diatas sepetak tanah
3x3
Itulah tempatku melepas penat
Siang, sore, dan malam
Segi empat
Itulah bentuknya
Yang membujurkan tubuhku
Dari barat ke timur
Bercat biru telor asin
Warna yang menyejukan dan mendamaikan
Hati dan pikiranku
Negeri Para Penjilat
Erna Sufanti

Mereka menjulurkan lidahnya
Air liurnya menetes
di ubun-ubun para idiot
Mereka hanya menunduk
Dibiarkannya air liur di kepalanya
Kemanapun merangkak
lidahnya menjulur
Seperti anjing terengah-engah
Sesudahnya
para idiot berlagak
Mereka dijilat
Lalu menjilat idiot-idiot baru

Gelap
Nurul Fitrahtullailah

Bulan memudar cantik menarik pada jiwa ini
Hitam memang menang menyerang terang
Gelap sungguh Gelap
                                                                                                                                               Yogyakarta, April 2017

Amnesia
Hidayatul Khasanah

Setitik noda hitam diatas kertas putih
Membuatnya tak bersih lagi kan?
Ya, memang hanya setetes noda
Tapi cukup untuk membuat seseorang Amnesia
Seperti asap rokok yang menghilang dalam kehampaan

Ke dunia yang berkarat
Hatinya mengumpat bagai buih
Melupakan uluran tangan yang pernah diberikan
Disebabkan satu titik di kertas bersih
Ya, lagi-lagi Amnesia

Amnesia, amnesia
Mengapa banyak sekali yang mengindapnya?
Dunia Hitam Putih
Eri Yuliarsih

Bagaikan permainan sepakbola dunia
Penonton di setiap sudut berteriak seperti orang kesurupan
Sebagian hanya menyaksikan sembari berdoa
Semoga “jagoanku adalah sang juara”
Sebagian yang lain tersenyum sinis
Permaikan tiada aturan
Hanyalah kebebasan
Wasit adalah batu

Jalan Kotagede
Lia Ardiyah

Ketika roda menari di tanah perak nan kasar
Ketika bola mata hanya menyosongsong ke depan
Tanpa melongo kanan kiri
Ketika kuda besi berlari
Ketika kuda besi itu egois
Kuda coklat tlah tergantikan
 Kini ada
Tapi masa datang mungkin ini tak ada

Mengubur Bangkai
Bima Rian Hidayat

Sudah lama mata ini merekam
Kepala tak letih menyimpan
Namun, bibirku bungkam lidahku diam
Leherku terjerat oleh dasi yang ku pakai sendiri
Seperti mengikat diri dalam perang dan perlawanan

Hitam
Ferdi Juha

Melawan putih
Memikat surya
Merajut perih
Menjerat Jiwa
Yogyakarta, 2017
Negeri Jancuk
Tommy Kurniawan

Terdengar aungan keras di ufuk timur
Pisau silih berganti terpatahkan oleh lidah
Kebencian yang mulai menyibak cakrawala
Merusak dinginnya embun pagi hari
Yogyakarta, 13 April 2017

Lakardowo
Venda Margareta

Ku merayu
Aku merayu pada tanahku,
Namun tiba-tiba dia menghitam kesakiatan
Aku merayu pada tanaman,
Namun dia mati
Aku merayu pada beningmu yang bagiku setiap tetes bagaikan permata,
Namun justru tetesanmu berubah luh
Aku juga merayu pada hembusan angin,
Namun juga mereka sudah terlanjur tidak bersahabat lagi dengan tanaman
Apalagi aku akan merayu pada pengusaha itu,
Sampai matipun mungkin dia tak pernah peduli
Dimana salahku?
Atau aku mungkin lupa, seharusnya aku merayu pada sang Pemilik
Yogyakarta, April 2017

Jawa yang Hilang
Anita Hidayah

Sayang, beribu sayang
Adat jawa tlah hilang
Digantikan adat negeri seberang

Blangkon dan surjan?
Kebaya dan kesederhanaan?
Ah kuno!

Style Eropa dan Korea
Keramaian dan kemegahan
Itulah masanya
Memang
Dunia makin berkembang
Demi negeri yang gemilang
Tapi bukan untuk menghilang
Yogyakarta,9 April 2017


Satu Dari Dua
Aska Anjarini

Ketika dua raga disatukan
Ketika dua raga berikrar
Dua menjadi satu
Satu menjadi dua

Duka untuk bersatu
Bersatu untuk suka

Kiri melemah, kanan menguatkan
Kanan melumpuh, kiri perkasa

Satu itu dua
Dua itu satu
Yogyakarta, 2017

















Pada siapa?
Yupita Friskiana Wijaya

Aku bercerita pada langit
Ia justru menggelapkan awan
Aku mempercayai lautan
Berkali-kali ia menggulungkan ombak
Aku bertingkai dengan angin
Sayang, tak ada yang jadi pemenang

Lantas, pada siapa aku merimbunkan harap?
Di saat ingkar menumpah biadab


Sendiri
Dhea Sukma M.P
Sepi itu sunyi
Sunyi itu hening
Hening itu malam
Malam itu gelap
Gelap itu sesak
Sesak itu saat harus jatuh dari kalian
Yogyakarta, 16 April 2017


Panjat Sosial
Rafi Farkhah

Demi sepatu Cinderalla
Ku rela lepaskan mahkota
Ku kejar gaun permata

Demi mengejar sebuah nama
Luka jiwa tak lagi dirasa
Cibir mereka sebatas nada
Nada tak berirama





Gincu Merah
Trisna Budi Susanti

Berdiri di ambang nista
Terbuai rayu sesaat
Tersenyum menyerat kumbang
Tertawa meraih alam kumbang
Berkerumun meraih dunia
Kulon Progo, April 2017

Kaleng
Siti Fatmaisaroh

Joget-joget molek
Tangan melambai
Menjinjing rok mini
Gemolet suara
Gincu tebal menghiasi bibir
Kecup, kesana kemari
Dunia dunia
Kemerlap kota

Waktu
Ina Anita Dewi

Kertas penuh coretan sisa-sisa angan pribadi
Meskipun aku tak pernah tahu ini terjadi
Berharap kopi dan cemilan menghibur waktu yang tak bisa diulang kembali
Nyatanya mimpi yang menjagaku hingga dini hari
Terbangun kembali dan tanpa kusadari, aku masih berdiri disini
Tak lain alasannya karena isi hati

Pemain Drama
Ayu Permatasari

Hai kau pemain drama
Tersenyum lebar dengan cerita busuk di dalamnya
Mengoceh sana kemari mengumbar janji
Entah itu pasti atau tidak dikemudian hari
Hanya kau dan yang maha Esa yang tau
Yogyakarta, April 2017
Halang
Mutia Alfi Rahmania

Menarilah didalam senjaku
Dalam iringan hembusan angin
Tunjukanlah tarian terindahmu
Bersama burung yang terbang di atasmu
Halang semakin senang, di puja oleh alam
Membuatnya semakin menawan
Yogyakarta, 2017

Kerupuk Goreng
Lalu Khairil Anwar

Hatimu renyah Dek, terlalu garing jiwamu
Kebaikan membuatmu jatuh dan terbunuh.
Jangan bermimpi menjadi Cinderella.
Sesungguhnya itu hanya sebuah karangan manusia
Jadilah bunga mawar untuk mencapai keindahan.

Senin, 09 Oktober 2017

cinta bukan prihal ungkapan

bisakah berhenti menjajalku dengan kata-kata dan teori??
    rasa itu selalu butuh bukti,
         cinta bukan prihal ungkapan, kecupan,dan pelukan.
               namun lebih tentang perhatian dan kedamaian
                    jika hanya soal kehangatan, mudah kutemukan pada secangkir kopi

kumpulan puisi

Arti Kejujuran Imam A.W.S Takkan ternilai kejujuran dan   kepercayaan Takkan pernah ternilai dengan apapun! Jangan berani...